Iran dalam Kegelapan: Ketika Negara Memerangi Rakyatnya Sendiri

 



Iran dalam Kegelapan: Ketika Negara Memerangi Rakyatnya Sendiri

Editorial

Iran hari ini sedang tenggelam dalam salah satu bab paling kelam dalam sejarah modernnya. Di balik pemadaman internet nasional dan pembungkaman informasi, kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri terus berlangsung tanpa pengawasan publik yang memadai. Apa yang bermula sebagai protes atas penderitaan ekonomi kini telah berubah menjadi krisis kemanusiaan dan krisis legitimasi kekuasaan.

Sejak awal Januari 2026, pemerintah Republik Islam Iran memilih jalur represif: memutus akses internet, mengerahkan kekuatan bersenjata, dan menutup semua jalur transparansi. Langkah ini bukan sekadar kebijakan keamanan. Ini adalah strategi untuk beroperasi dalam kegelapan, jauh dari sorotan dunia.

Ketika negara mematikan internet, yang sedang dimatikan bukan hanya koneksi digital, tetapi hak rakyat untuk dilihat, didengar, dan dilindungi.


Kekerasan Tanpa Saksi

Laporan yang berhasil menembus blokade informasi—melalui jaringan satelit, aktivis HAM, dan diaspora Iran—menggambarkan situasi yang mengerikan: penembakan terhadap demonstran, penahanan massal, penghilangan paksa, dan ketakutan yang menyelimuti keluarga para korban.

Angka korban jiwa masih menjadi perdebatan. Organisasi HAM internasional telah mengonfirmasi ratusan kematian. Sementara itu, berbagai sumber independen dan kelompok oposisi menyebut jumlah korban bisa jauh lebih besar. Ketidakpastian ini bukan kebetulan—ia adalah akibat langsung dari pemadaman informasi yang disengaja.

Dalam kegelapan, kebenaran menjadi korban pertama.


Ketika Aparat Menolak, Milisi Dikerahkan

Salah satu perkembangan paling mengkhawatirkan adalah laporan bahwa pemerintah mulai mengandalkan milisi-milisi loyalis untuk menindak demonstran, seiring munculnya penolakan dari sebagian aparat reguler yang enggan membantai rakyatnya sendiri.

Jika benar, ini menandai fase baru represi: kekerasan yang dialihkan kepada aktor-aktor yang minim akuntabilitas, namun sangat setia pada ideologi dan kekuasaan. Sejarah menunjukkan bahwa ketika negara kehilangan kepercayaan pada aparatnya sendiri, maka kekuasaan itu sendiri sedang rapuh.


Internet Dimatikan, Tapi Rasa Takut Tak Hilang

Pemadaman internet sejak 10 Januari 2026 telah memutus jutaan warga Iran dari dunia luar. Media sosial dibungkam. Jurnalis dilumpuhkan. Bukti kekerasan dihapus sebelum sempat disebarkan.

Upaya warga untuk mengakses internet melalui satelit—seperti Starlink—pun dilaporkan dibalas dengan pengacauan sinyal, penggerebekan rumah, dan penyitaan perangkat. Negara kini tidak hanya mengontrol jalan dan penjara, tetapi juga memerangi kebenaran itu sendiri.

Namun sejarah mengajarkan: sensor tidak pernah benar-benar memadamkan perlawanan—ia hanya menundanya.


Narasi Lama: Menyalahkan Asing, Menghindari Tanggung Jawab

Seperti biasa, pemerintah Iran menuding “campur tangan asing” sebagai penyebab kekacauan. Retorika ini sudah usang. Inflasi, pengangguran, kemiskinan, dan keputusasaan bukan produk luar negeri. Itu adalah hasil dari sistem kekuasaan yang menolak akuntabilitas dan menutup ruang kritik selama puluhan tahun.

Ketika rakyat dari berbagai kota dan lapisan sosial turun ke jalan dengan tuntutan yang sama, itu bukan konspirasi. Itu adalah tanda runtuhnya kepercayaan.


Diamnya Dunia adalah Masalah

Respons internasional sejauh ini masih berhenti pada pernyataan keprihatinan. Dunia tampak ragu, berhitung, dan menunggu. Namun setiap jam pemadaman internet adalah satu jam tambahan tanpa saksi, tanpa perlindungan, tanpa keadilan.

Netralitas dalam situasi seperti ini bukan sikap aman. Ia adalah keberpihakan yang tertunda—dan sering kali, keterlambatan itu dibayar dengan nyawa manusia.


Lebih dari Sekadar Protes

Apa yang terjadi di Iran bukan sekadar kerusuhan ekonomi atau ledakan emosi sesaat. Ini adalah pertarungan antara rakyat yang kehilangan masa depan dan negara yang kehilangan legitimasi.

Pemerintah bisa memadamkan lampu kota. Bisa memutus internet. Bisa memenjarakan tubuh.
Namun ia tidak bisa memenjarakan ingatan, martabat, dan keinginan manusia untuk merdeka.

Iran hari ini berada dalam kegelapan—bukan karena listrik padam, tetapi karena kekuasaan memilih kekerasan daripada mendengar.

Dan pada titik ini, diam bukan lagi netral.
Diam adalah keberpihakan.

Newest
Previous
Next Post »